Find The Way to Heaven

Blog ini saya buat untuk berbagi diantara kita, apakah itu Diskusi, Forum, Komentar, maupun Bisnis yang bertujuan untuk mencapai cita-cita serta tujuan hidup kita kelak

Wednesday, October 11, 2006

Pakaian Dunia

Penduduk Desa Karanganyar tidak tahu apa kerja Marwan di kota besar. Yang terang setelah dua tahun merantau Marwan pulang mengendarai mobil bagus. Kepada Pak Lurah ia bilang akan membangun rumah dan makam ibunya. Malam itu Marwan menemui Pak Lurah setelah siang tadi ibunya dikuburkan."Saya ingin menunjukkan kepada ibu bahwa anaknya telah berhasil.""Tapi ibumu sudah meninggal, Marwan?""Yang mati kan hanya jasadnya Pak Lurah. Ruh ibu saya akan senang sekali melihat rumah dan makamnya dibangun indah."Pak Lurah hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil istighfar."Terserah kamu lah, Wan. Kamu yang punya uang."Selama tiga tahun merantau Marwan tidak pernah pulang. Ia juga tidak pernah memberi kabar, apalagi kirim uang kepada ibunya. Karena itu, Mbok Surti, ibunya, menyusul ke kota. Namun, tidak begitu jelas apa yang terjadi, pulang dari kota Mbok Surti sakit keras. Dalam sakitnya ia selalu mengatakan tiga kalimat pendek, "Dosa Marwan. Dosa! Dosa Marwan. Dosa! Dosa Marwan. Dosa!" Hanya tiga kata itu yang entah berapa ratus kali diucapkan Mbok Surti dalam sakitnya.Akhirnya Mbok Surti meninggal dunia. Marwan pulang dengan membawa mobil bagus dan seorang perempuan cantik. Ketika para takziah sudah meninggalkan kompleks makam Marwan masih menangis tersedu sambil memeluk batu nisan makam ibunya.Kyai Muslih, guru mengaji Marwan semasa ia masih kanak-kanak di desa itu, mendekatinya. Sementara perempuan teman Marwan menunggu di dalam mobil yang diparkir di jalan depan kompleks makam.Kyai Muslih menepuk-nepuk pundak Marwan."Sudahlah, anakku, kamu boleh sedih karena ibumu meninggal. Tetapi jangan berlebihan. Allah tidak suka kepada segala sesuatu yang melampaui batas. Walaupun kamu menumpahkan seluruh air matamu sampai kering, ibumu tidak akan pernah kembali. Yang menolong perjalanan ibumu menghadap Allah bukan air matamu, tetapi doamu, doa anak sholeh. Maka jadilah kamu anak sholeh Marwan.""Saya berjanji, Kyai.""Tidak usah berjanji. Niatkan saja di dalam hatimu. Akan lebih berdosa kalau kamu berjanji tidak kamu tepati."Marwan meninggalkan kompleks makam dengan wajah kuyu. Tapi orang tidak tahu apa yang ada dalam pikiran dan perasaan Marwan. Apakah ia sungguh-sungguh bersedih atas kematian ibunya atau hanya berpura-pura sedih. Sebab, malam itu ketika orang-orang mengaji di ruang depan, di kamar tertutup Marwan malah tertawa-tawa dengan perempuan yang dibawanya dari kota itu.Ia bilang perempuan itu istrinya. Tetapi ada yang mengatakan bahwa Marwan belum menikahi perempuan itu. Bahkan beberapa orang bilang Mbok Surti jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia setelah melihat Marwan hidup bersama tanpa nikah dengan perempuan itu. Mbok Surti merasa belum pernah menikahkan anak lelakinya itu dengan perempuan mana pun. Setelah tujuh hari kemudian Mbok Surti, Marwan menemui Kyai Muslih untuk minta ijin memugar makam ibunya."Kamu tidak perlu minta ijin kepadaku, Marwan. Bukan saya yang memiliki wewenang atas makam itu. Dan lagi, sepengetahuan saya, tidak pernah ada larangan memugar makam di desa ini. Tapi, kamu harus memperhitungkan tempat. Memugarnya jangan terlalu lebar, agar orang lain juga mendapat tempat. Ingat Marwan, makam itu bukan milik pribadi.""Saya sudah pesan marmer kelas satu dari Tulungagung, Kyai.""Sebenarnya tidak perlu yang mahal-mahal. Orang yang sudah meninggal tidak membutuhkan semua itu.""Selama ibu masih hidup, saya belum sempat berbakti kepadanya, Kyai. Saya menyesal karena waktu itu saya miskin. Sekarang saya sudah punya banyak uang.""Kamu salah mengerti Marwan. Mbok Surti sudah meninggal dunia. Ibumu tidak lagi memerlukan pakaian dunia. Batu nisan mahal, marmer kelas satu, adalah pakaian dunia. Hanya orang-orang yang hidup di dunia ini yang bisa menikmatinya. Yang dibutuhkan ibumu saat ini adalah pakaian akhirat. Ibumu hanya memerlukan doa kamu. Yang saya sebut pakaian akhirat ya doa kamu itu. Apalagi kamu anak laki-laki satu-satunya."Marwan diam saja. Tapi dari wajahnya menunjukkan bahwa ia tidak sepakat dengan apa yang dikatakan Kyai Muslih. "Marwan, apakah kamu lupa hanya ada tiga amalan yang tidak putus-putusnya meskipun seseorang sudah meninggal. Pertama amal jariyah, kedua ilmu yang bermanfaat, dan ketiga doa anak sholeh?""Saya tahu, Kyai. Tapi sebelum saya jadi anak sholeh, sudilah Kyai berdoa di makam ibu saya setelah pemugaran nanti?""Berdoa itu baik, Marwan. Di mana saja di bumi Tuhan ini kita boleh berdoa. Juga di kuburan. Semua itu tergantung nawaitu-nya, atau niatnya. Kalau kamu datang ke kuburan, jangan lupa berdoalah untuk mereka. Jangan terbalik, kamu malah meminta doa kepada orang yang sudah meninggal. Orang hidup mendoakan orang mati bukan orang mati mendoakan orang hidup."Namun, Marwan pantang mundur. Tekadnya sangat besar untuk menolak anggapan umum di desa itu bahwa selama ini ia tidak berbakti kepada ibunya. Ia ingin menunjukkan kepada orang-orang sedesa bahwa makam ibunya paling mewah di antara makam-makam yang lain.Siang itu Marwan memimpin para tukang memugar makam Mbok Surti, ibunya. Dengan kewibawaan yang dibuat-buat Marwan memberikan perintah kepada para pekerja."Awas marmernya jangan sampai pecah. Itu marmer mahal, kelas satu dari Tulungagung.""Iya, Pak Marwaaaan."Marwan berkacak pinggang sambil memperhatikan para tukang bekerja."Jangan keliru, nisan yang ada nama ibuku ditaruh di kepala jangan di kaki.""Iya, Pak Marwaaaaan.""Kita bikin makam Mbok Surti paling indah dari semua makam di sini.""Iya, Pak Marwaaaan.""Kira-kira bisa selesai hari ini tidak?""Bisa Pak, bisa!""Besok saya harus kembali ke kota. Bisnis tidak bisa ditinggalkan. Bisnis itu uang.""Iya, Pak Marwaaaaan.""Nanti kalau sudah rampung kita adakan selamatan dan kita undang Kyai Muslih untuk berdoa. Saya sudah matur dan beliau bersedia.""Sebaiknya memang begitu, Pak Marwan."Marwan kemudian membuka tasnya lalu dikeluarkan beberapa bungkus rokok kretek, lalu dibagikan kepada para pekerja."Kalian setuju dengan cara inilah aku menunjukkan bakti kepada ibu?""Setuju, Pak Marwan.""Jadi tidak hanya berdoa, kan?""Iya, Pak Marwan.""Kalau cuma dengan doa hanya Tuhan yang tahu bahwa aku telah berbakti kepada orang tua. Padahal semua orang desa ini juga harus tahu. Bukankah mereka yang selama ini menganggap saya tidak berbakti?""Betul, Pak Marwan."Marwan mengeluarkan dompet dari saku belakang celananya. Dari dompet itu ia keluarkan beberapa lembar uang kertas lalu dibagikan kepada para pekerja satu lembar seorang."Orang punya cara sendiri-sendiri untuk menunjukkan bakti kepada orang tua. Dan inilah caraku.""Betul, Pak Marwan.""Kita boleh berbeda. Tapi kita bebas memilih cara kita.""Memang begitulah seharusnya, Pak Marwan."Udara terasa semakin panas karena matahari berada di atas ubun-ubun. Para pekerja itu semakin bersemangat. Menjelang sore pemugaran itu masih separo jadi. Tiba-tiba terdengar suara sirine meraung-raung. Para pekerja di makam itu panik ketika dua mobil polisi berhenti di depan makam. Beberapa polisi berloncatan dari atas mobil dengan senjata siap tembak. Polisi-polisi itu berhamburan masuk ke dalam kompleks makan.Marwan berlari lalu meloncati pagar samping makam. Terdengar suara tembakan. Marwan menjerit lalu terjerembab ke tanah. Desa Karanganyar gempar. Marwan ditangkap polisi setelah tertembak kakinya. Ternyata selama ini Marwan menjadi buronan polisi karena menjadi otak perampokan di mana-mana. Marwan adalah pimpinan Kapak Merah gerombolan perampok yang terkenal kejam.Untuk beberapa hari makam Mbok Surti terbengkalai. Atas inisiatif Pak Lurah dan Kyai Muslih pemugaran tetap dilanjutkan. Tapi, Kyai Muslih mengusulkan bahannya diganti dengan batu bata biasa hasil produksi Desa Karanganyar sendiri."Sia-sia kita bangun makam sebagus-bagusnya kalau uang yang kita gunakan tidak halal," kata Kyai Muslih. Para pekerja itu kembali mencopoti marmer kelas satu dari Tulungagung dan diganti dengan batu merah."Marmer itu malah akan menghalang-halangi jalan Mbok Surti menghadap Allah. Kita tahu siapa Mbok Surti yang selama ini sangat rajin beribadah. Marmer-marmer itu sama sekali tidak akan membantunya. Mbok Surti telah membawa bekal sendiri yang ia tabung dengan rajin di masjid kita." Hanya dalam waktu singkat pemugaran secara sederhana itu rampung. Selesai pemugaran Kyai Muslih membaca doa. Agak panjang doa itu. "Allahuma firlahaa warhamhaa waafihii wa'fuanhaa." Kyai Muslih mengakhiri doanya

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home