Find The Way to Heaven

Blog ini saya buat untuk berbagi diantara kita, apakah itu Diskusi, Forum, Komentar, maupun Bisnis yang bertujuan untuk mencapai cita-cita serta tujuan hidup kita kelak

Monday, November 13, 2006

Berhentilah Menjadi Gelas

Seorang guru mendatangi seorang muridnya ketika wajahnya belakangan ini selalu tampak murung.
"Kenapa kau selalu murung, nak? Bukankah banyak hal yang indah di dunia ini? Ke mana perginya wajah bersyukurmu?" sang Guru bertanya.
"Guru, belakangan ini hidup saya penuh masalah. Sulit bagi saya untuk tersenyum. Masalah datang seperti tak ada habis-habisnya," jawab sang murid muda.
Sang Guru terkekeh. "Nak, ambil segelas air dan dua genggam garam. Bawalah kemari. Biar kuperbaiki suasana hatimu itu."
Si murid pun beranjak pelan tanpa semangat. Ia laksanakan permintaan gurunya itu, lalu kembali lagi membawa gelas dan garam sebagaimana yang diminta.
"Coba ambil segenggam garam, dan masukkan ke segelas air itu," kata Sang Guru. "Setelah itu coba kau minum airnya sedikit."
Si murid pun melakukannya. Wajahnya kini meringis karena meminum air asin.
"Bagaimana rasanya?" tanya Sang Guru.
"asin, dan perutku jadi mual," jawab si murid dengan wajah yang masih meringis.
Sang Guru terkekeh-kekeh melihat wajah muridnya yang meringis keasinan.
"Sekarang kau ikut aku." Sang Guru membawa muridnya ke danau di dekat tempat mereka. "Ambil garam yang tersisa, dan tebarkan ke danau."
Si murid menebarkan segenggam garam yang tersisa ke danau, tanpa bicara. Rasa asin di mulutnya belum hilang. Ia ingin meludahkan rasa asin dari mulutnya, tapi tak dilakukannya. Rasanya tak sopan meludah di hadapan guru , begitu pikirnya.
"Sekarang, coba kau minum air danau itu," kata Sang Guru sambil mencari batu yang cukup datar untuk didudukinya, tepat di pinggir danau.
Si murid menangkupkan kedua tangannya, mengambil air danau, dan membawanya ke mulutnya lalu meneguknya. Ketika air danau yang dingin dan segar mengalir di tenggorokannya, Sang Guru bertanya kepadanya, "Bagaimana rasanya?"
"Segar, segar sekali," kata si murid sambil mengelap bibirnya dengan punggung tangannya. Tentu saja, danau ini berasal dari aliran sumber air di atas sana. Dan airnya mengalir menjadi sungai kecil di bawah. Dan sudah pasti, air danau ini juga menghilangkan rasa asin yang tersisa di mulutnya.
"Terasakah rasa garam yang kau tebarkan tadi?"
"Tidak sama sekali," kata si murid sambil mengambil air dan meminumnya lagi. Sang Guru hanya tersenyum memperhatikannya, membiarkan muridnya itu meminum air danau sampai puas.
"Nak," kata Sang Guru setelah muridnya selesai minum. "Segala masalah dalam hidup itu seperti segenggam garam. Tidak kurang, tidak lebih. Hanya segenggam garam. Banyaknya masalah dan penderitaan yang harus kau alami sepanjang kehidupanmu itu sudah dikadar oleh Allah, sesuai untuk dirimu. Jumlahnya tetap, segitu-segitu saja, tidak berkurang dan tidak bertambah. Setiap manusia yang lahir ke dunia ini pun demikian. Tidak ada satu pun manusia, walaupun dia seorang Nabi, yang bebas dari penderitaan dan masalah."
Si murid terdiam, mendengarkan.
"Tapi Nak, rasa ‘asin’ dari penderitaan yang dialami itu sangat tergantung dari besarnya qalbu yang menampungnya. Jadi Nak, supaya tidak merasa menderita, berhentilah jadi gelas. Jadikan qalbu dalam dadamu itu jadi sebesar danau."
"Berkata (Musa), "Ya Tuhanku, lapangkanlah untukku dadaku," (25)
"Dan mudahkanlah untukku urusanku." (26).
[Q.S. 20 : 25 - 26]
"Tidaklah Allah membebani seseorang kecuali sesuai dengan kesanggupannya." [Q.S. 2 : 286 ]

Friday, November 10, 2006

IBROH DARI Mbok Bakul Tempe

"Boleh jadi kamu membenci sesuatu , padahal ia amat baikbagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu , padahalia amat buruk bagimu."Di suatu daerah , ada seorang wanita setengah baya yangberprofesi sebagai seorang penjual tempe atau orang seringmenyebutnya "si mbok bakul tempe." Setiap hari dia membuattempe dari bahan dasar kedelai. Wanita ini adalah seorangmuslimah yang Alhamdulillah, selalu menjalankan sholatlima waktu. Pokok kat beliau selalu rajin beribadah.Suatu pagidini hari, disaat orang sedang nyenyak tidur, simbok ini bangun pagi dan memeriksa bungkusan tempe yangdibuatnya. Ternyata kedelai yang seharusnya berfermentasimenjadi tempe tetep dalam kondisi semula sebagai kedelai.Si mbok baku tempe, karena terbiasa melaksanakanibadahnya, serta merta menengadahkan tangan sembarimemohon do'a : Ya Allah ya Robbi, yang menggemgam jiwaku,yang maha pengasih lagi maha penyayang, Engkau tahu bahwapekerjaanku adalah menjual tempe, tapi apabila pagi inikedelai dalam bungkusan ini belum menjadi tempe, apa yangbisa saya jual ?.Tidak lama kemudian, si mbok membuka kembali bungkusankedelai dibakul tersebut, esmbari terus berdo'a agarkedelainya menjadi tempe. Perlahan dibukanya, ternyata..Kedelai tersebut.. Masih berupa kedelai. Mbok bakul tempekembali menutup bungkusan dan kembali berdo'a memohondengan sangat kepada Allah SWT agar kedelainya lekasmenjadi tempe, namun ternyata Allah SWT berkehendak lain.Bungkusan tersebut masih berisi kedelai dan belum berubahmenjadi tempe.Hari sudah beranjak pagi, matahari sudah memancarkansinarnya. Mbok bakul tempe yang biasa berangkat kepasarsebelum matahari terbit, pagi ini berangkat kepasar denganlangkah agak lemas.Sepanjang perjalanan si mbok bakul tempe terus berdo'amemohon kepada Allah SWT agar bisa berjualan tempe.Sesampainya dipasar dia tidak langsung menggelardagangannya karena dia khawatir bungkusan tersebut belummenjadi tempe. Segera diperiksa bungkusan tersebut,ditekan-tekan dengan jarinya, ternyata .ya Allah . masihberupa kedelai.Hari beranjak siang, teman sesama bakul tempe sudah hampirberkemas meninggalkan pasar. Sebagian besar daganganmereka sudah laku. Si mbok bakul tempe masih dudktermenung. Tiba-tiba datang seorang wanita menyapa si mbokbakul tempe, "mbok jual tempe yang belum jadi engga ? sayasudah keliling pasar ini ngga ada yang jualan. Saya maukirim tempe yang belum jadi untuk anak saya di Yogya. Anaksaya suka tempe mendoan. Kalau saya kirim yang sudah jadiseringnya sampai sana busuk.Si mbok tersadar dari lamunannya, namun tidak serta mertadia menjawab pertanyaan wanita tersebut, sebab sembaritermenung dia terus berdo'a agar kedelainya sudah menjaditempe. Perlahan dibukanya bungkusan tersebut.Ternyata.Alhamdulillah.. ya ..Allah tempenya belum jadi,si mbok berkata dalam hati. Akhirnya wanita tersebutmembeli seluruh dagangan si mbok bakul tempe.Nah .. pembaca yang baik, kadang kita berdo'a kepada AllahSWT memohon sesuatu dengan sedikit memaksakan kehendakkita. Padahal hanya Allah SWT yang maha mengetahui apayang terbaik bagi kita. Tanpa bermaksud menggurui, marilahsaudara-saudaraku, mulai detik ini memanjatkan do'a tanpasedikitpun memaksakan kehendak kita. Biar Allah SWT yangmaha mengetahui itu yang mengatur kehendak Nya untuk kita.Yang menarik, sosok mbok bakul tempe tadi mewakili sosokseseorang yang taat beribadah. Begitu terbentur suatumasalah, ia segera mengadukan urusannya kepada Allah SWT .kalau toh ada yang keliru, adalah caranya memohon, yangterjebak pada keterbatasan pengetahuannya sebagai manusia.Semantara dibanyak tempat di dunia ini, begitu banyakmanusia yang sudah enggan berdo'a kepada Nya. Entah karenakeyakinannya yang begitu tipis terhadap Allah SWT ataukarena 'pede'nya yang begitu tinggi terhadap diri sendiri.Mereka menyandarkan kebahagiaan hidup kepada kecerdasandan kerja keras. Seolah kemampuan manusia tanpa batas.Saya pribadi mengajak saya sendiri dan anda dari sikapmengabaikan Allah SWT.Jadi tetaplah berdo'a kepada Nya dan berusaha berprasangkabaik kepada Allah SWT . bersabarlah terhadap apa yangtelah kita terima karena mungkin belum waktunya Allah SWTmenunjukan bahwa sebenarnya apa-apa yang terbaik bagikita.Kita perlu memahami bahwa dalam segala peristiwa selaluterdapat hikmah. Sebagai manusia kadang kita bersikapna'if mengharapkan mengharapkan sesuatu yang sebenarnyabelum tentu baik bagi kita.Ingatlah Firman Allah SWT bahwa :"..Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal apa baikbagimu dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu padahalia amat buruk bagimu, Allah mengetahiui, sedang kamutidak mengetahui.""Kami berlindung kepada Mu untuk tidak menakuti apapunselain engkau, dari bergantung kepada siapapun selainengkau, dari menaruh kepercayaan sepenuhnya kepada sipapunselain kepada Mu. Engaku sebai-baik penolong dan pelindungdan pelindung kami."

Thursday, November 02, 2006

No Place to Hide

Saya mengingat cerita ini dari membaca atau ceramah saya lupa, tetapi semoga ini dapat diambil hikmahnya oleh kita semua. Ada sebuah kerajaan, dimana si Raja mengadakan ujian untuk mencari orang yang dapat dijadikan pengawal pribadinya, diceritakan bahwa raja tersebut adalah seorang yang budiman, apalagi untuk dijadikan pengawal pribadi haruslah sisi kesetiaan yang benar-benar dapat dijaga dari orang tersebut. Disebutkan ada 2 orang yang akan diuji untuk dijadikan pengawal pribadi tersebut. Katakanlah orang pertama adalah si A dan yang kedua si B. Raja tersebut menyediakan 2 ekor burung yang ditempatkan pada sangkar masing-masing, yang satu diberikan pada si A dan yang satu lagi pada si B. Lalu si Raja berkata,"barang siapa yang paling cepat dapat menyembelih burung tersebut tanpa diketahui siapapun dan membawanya kehadapanku maka dialah yang menjadi pemenang". Setelah memberi aba-aba kedua calon pengawal pribadi tersebut langsung pergi meninggalkan kerajaan untuk mencari tempat untuk menyembelih burung itu tanpa diketahui siapapun. Beberapa saat kemudian si A sudah kembali kehadapan Raja dengan membawa burung tadi yang sudah disembelih tanpa diketahui oleh siapapun ataupun adanya saksi mata yang melihat si A menyembelih burung tersebut. Waktu demi waktu telah berlalu, si B belum juga kembali keistana sampai keesokan harinya si B baru kembali ke istana dengan membawa burung itu dalam keadaan sehat walafiat (belum disembelih). lalu si Raja berkata,"Mengapa kamu kembali ? dan kenapa burung itu belum kau sembelih ?". Setelah itu si B berkata untuk menjawab pertanyaan si Raja, "Baginda semenjak kemarin saya pergi dari istana untuk mencari tempat menyembelih burung ini tanpa diketahui oleh siapapun hingga hari ini saya belum juga menemukan tempat untuk melaksanakan titah Baginda tersebut". lalu si raja berkata,"alasan apa sehingga kamu belum juga melaksanakan perintahku ?". Si B lalu menjawab, "Begini baginda, menurut saya tiada satu tempatpun di dunia ini, walaupun di dalam gua sekalipun yang tidak dapat diketahui oleh Tuhanku yang Maha Melihat, Maha Mendengar, Maha Mengetahui serta maha segala-galanya, itulah alasan hamba kenapa hamba tidak dapat melaksanakan titah Baginda dan apapun akibatnya hamba ikhlas menerimanya". Begitulah yang diucapkan oleh si B. Tak lama kemudian si Raja berkata di hadapan mereka, "Hai para calon pengawal pribadiku, hari ini juga akan aku umumkan siapa yang berhak menjadi pengawal pribadiku, aku memilih Engkau (sambil menunjuk si B) wahai pengawalku, karena memeng benar tiada satu tempat pun di alam ini yang tidak diketahui oleh Tuhan kita". Dan dengan bijaksana pula si A dijadikan wakil pengawal pribadi yang di jabat oleh si B.

Doa Memohon Menutup Pintu Masuk Syetan ke Dalam Jiwa

Muhammad bin Wasi' setiap selesai melaksanakan sholat Shubuh membaca do'a ini : "Ya Allah sesungguhnya Engkau mengusakan kepada kami musuh yang sangat jeli terhadap aib-aib kami, dia( syetan) dan kawannya melihat kami sedangkan kami tidak melihat mereka. Ya Allah, kecewakanlah dia dari kami sebagaimana Engkau telah mengecewakannya dari rahmat-Mu, buatlah dia berputus asa dari kami sebagaimana Engkau telah membuatnya putus asa dari ampunan-Mu, dan jauhkanlah antara kami dan dia sebagaimana Engkau telah menjauhkan antara dia dan rahmat-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu."

Mencela Diri

Seorang ahli ibadah, Manshur bin Ammar berkata: "pada suatu malam di Kufah aku mendengar seorang ahli ibadah bermunajat kepada Allah SWT seraya berkata: 'Wahai Tuhanku, demi kemuliaan-Mu, aku tidak bermaksud menentang-Mu ketika aku bermaksiat, dan aku tidak bermaksud mendurhakai-Mu ketikaaku bermaksiat kepada-Mu, karena aku tidak mengetahui kedudukan-Mu, tidak dapat menghindar dari hukuman-Mu, dan tidak dapat bersembunyi dari penglihatan-Mu. Aku bermaksiat semata-mata karena godaan jiwaku, karena terdorong oleh kecelakaanku, karena aku terpedaya oleh tabir-Mu yang Engkau labuhkan padaku sehingga aku bermaksiat kepada-Mu karena kebodohanku dan aku menentang-Mu dengan perbuatanku. Siapakah yang dapat membebaskanku dari siksa-Mu sekarang ? Dengan tali siapakah aku harus berpegangan jika Engkau telah memutuskan tali-Mu dariku ? Betapa buruknya berdiri di hadapan-Mu nant, apabiladikatakan kepada orang-orang yang ringan bebannya, 'Teruslah berjalan' , dan dikatakakan kepada orang-orang yang berat bebannya, 'Berhentilah'. Apakah bersama orang-orang yang ringan beban aku terus berjalan ataukah bersama dengan orang-orang yang berat beban aku berhenti ? Duhai celaka aku! Semakin tua usiaku semakin banyak pula dosaku. Duhai celaka aku! Semakin panjang usiaku semakin banyak pula kemaksiatanku, sampai kapan aku bertaubat dan sampai kapan aku kembali ? Tidakkah telah tiba saatnya untuk malu kepada Tuhanku."(Dikutip dari buku "Mensucikan Jiwa")

Wednesday, November 01, 2006

Sadar di Akhir Batas

Suatu sore, ditahun 1525. Penjara tempat tahanan orang-orang di situ serasa hening mencengkam. Jendral Adolf Roberto, pemimpin penjara yang terkenal bengis, tengah memeriksa setiap kamar tahanan.Setiap sipir penjara membungkukkan badannya rendah-rendah ketika 'algojo penjara' itu berlalu di hadapan mereka. Karena kalau tidak, sepatu'jenggel' milik tuan Roberto yang fanatik ******* itu akan mendarat di wajah mereka.Roberto marah besar ketika dari sebuah kamar tahanan terdengar seseorang mengumandangkan suara-suara yang amat ia benci. "Hai...hentikan suara jelekmu! Hentikan...!" Teriak Roberto sekeras-kerasnya sembari membelalakan mata.Namun, apa yang terjadi? Laki-laki di kamar tahanan tadi tetap sajabersenandung dengan khusyu'nya. Roberto bertambah berang.'Algojo penjara' itu menghampiri kamar tahanan yang luasnya tak lebihsekadar cukup untuk satu orang. Dengan congkak ia menyemburkan ludahnya ke wajah renta sang tahanan yang keriput hanya tinggal tulang. Tak puas sampai di situ, ia lalu menyulut wajah dan seluruh badan orang tua renta itu dengan rokoknya yang menyala.Sungguh ajaib... Tak terdengar secuil pun keluh kesakitan. Bibir yang pucat kering milik sang tahanan amat gengsi untuk meneriakkan kata, "Rabbi, waana'abduka..." Tahanan lain yang menyaksikan kebiadaban itu serentak bertakbir sambil berkata, "Bersabarlah wahai ustadz...Insya Allah tempatmu di Syurga."Melihat kegigihan orang tua yang dipanggil ustadz oleh sesama tahanan,'algojo penjara' itu bertambah memuncak amarahnya. Ia memerintahkan pegawai penjara untuk membuka sel, dan ditariknya tubuh orang tua itu keras-keras hingga terjerembab di lantai. "Hai orang tua busuk! Bukankah engkau tahu, aku tidak suka bahasa jelekmu itu?!Aku tidak suka apa-apa yang berhubung dengan agamamu!Ketahuilah orang tua dungu, bumi Spanyol ini kini telah berada dalamkekuasaan Tuhan *****.Anda telah membuat aku benci dan geram dengan 'suara-suara' yang seharusnya tak pernah terdengar lagi di sini. Sebagai balasannya engkau akan kubunuh. Kecuali, kalau engkau mau minta maaf dan masuk agama kami."Mendengar "khutbah" itu orang tua itu mendongakkan kepala, menatap Roberto dengan tatapan tajam dan dingin. Ia lalu berucap, "Sungguh...aku sangat merindukan kematian, agar aku segera dapat menjumpai kekasihku yang amat kucintai, Allah. Bila kini aku berada di puncak kebahagiaan karena akan segera menemuiNya, patutkah aku berlutut kepadamu, hai manusia busuk? Jika akuturuti kemauanmu, tentu aku termasuk manusia yang amat bodoh."Baru saja kata-kata itu terhenti, sepatu lars Roberto sudah mendaratdiwajahnya. Laki-laki itu terhuyung. Kemudian jatuh terkapar di lantai penjara dengan wajah bersimbah darah. Ketika itulah dari saku baju penjaranya yang telah lusuh, meluncur sebuah 'buku kecil'. Adolf Roberto bermaksud memungutnya. Namun,tangan sang Ustadz telahterlebih dahulu mengambil dan menggenggamnya erat-erat. "Berikan buku itu, hai laki-laki dungu!" bentak Roberto. "Haram bagi tanganmu yang kafir dan berlumuran dosa untuk menyentuh barang suci ini!" ucap sang ustadz dengan tatapan menghina pada Roberto. Tak ada jalan lain, akhirnya Roberto, mengambil jalan paksa untuk mendapatkan buku itu.Sepatu lars berbobot dua kilogram itu ia gunakan untuk menginjak jari-jari tangan sang ustadz yang telah lemah. Suara gemeretak tulang yang patah terdengar menggetarkan hati. Namun tidak demikian bagi Roberto.Laki-laki bengis itu malah merasa bangga mendengar gemeretak tulang yang terputus. Bahkan 'algojo penjara'itu merasa lebih puas lagi ketika melihat tetesan darah mengalir dari jari-jari musuhnya yang telah hancur.Setelah tangan renta itu tak berdaya, Roberto memungut buku kecil yangmembuatnya penasaran. Perlahan Roberto membuka sampul buku yang telah lusuh. Mendadak algojo itu termenung. "Ah...sepertinya aku pernah mengenal buku ini. Tapi kapan? Ya, aku pernah mengenal buku ini." suara hati Roberto bertanya-tanya.Perlahan Roberto membuka lembaran pertama itu. Pemuda berumur tiga puluh tahun itu bertambah terkejut tatkala melihat tulisan-tulisan "aneh" dalam buku itu. Rasanya ia pernah mengenal tulisan seperti itu dahulu.Namun, sekarang tak pernah dilihatnya di bumi Spanyol.Akhirnya, Roberto duduk disamping sang ustadz yang telah melepasnafas-nafas terakhirnya. Wajah bengis sang algojo kini diliputi tanda tanya yang dalam. Mata Roberto rapat terpejam. Ia berusaha keras mengingat peristiwa yang dialaminya sewaktu masih kanak-kanak.Perlahan, sketsa masa lalu itu tergambar kembali dalam ingatan Roberto.Pemuda itu teringat ketika suatu sore di masa kanak-kanaknya terjadikericuhan besar di negeri tempat kelahirannya ini.******************************************************Sore itu ia melihat peristiwa yang mengerikan di lapangan Inkuisisi(lapangan tempat pembantaian kaum muslimin di Andalusia ). Di tempat itu tengah berlangsung pesta darah dan nyawa. Beribu-ribu jiwa tak berdosa berjatuhan di bumi Andalusia . Di hujung kiri lapangan, beberapa puluh wanita berhijab (jilbab)digantung pada tiang-tiang besi yang terpancang tinggi. Tubuh mereka bergelantungan tertiup angin sore yang kencang, membuat pakaian muslimah yang dikenakan berkibar-kibardi udara. Sementara, ditengah lapangan ratusan pemuda Islam dibakarhidup-hidup pada tiang-tiang *****, hanya karena tidak mau memasuki agama yang dibawa oleh para *****.Seorang bocah laki-laki mungil tampan, berumur tujuh tahunan, malam itu masih berdiri tegak di lapangan Inkuisisi yang telah senyap. Korban-korban kebiadaban itu telah syahid semua. Bocah mungil itu mencucurkan air matanya menatap sang ibu yang terkulai lemah ditiang gantungan. Perlahan-lahan bocah itu mendekati tubuh sang ummi yang sudah tak bernyawa, sembari menggayuti ibunya. Sang bocahberkata dengan suara parau, "Ummi, ummi, mari kita pulang. Hari telahmalam, bukankah ummi telah berjanji malam ini akan mengajariku lagi tentang alif, ba, ta, tsa....? Ummi,cepat pulang ke rumah ummi..." Bocah kecil itu akhirnya menangis keras, ketika sang ummi tak jua menjawab ucapannya. Ia semakin bingung dan takut, tak tahu harus berbuat apa. Untuk pulang ke rumah pun ia tak tahu arah.Akhirnya bocah itu berteriak memanggil bapaknya " Abi...Abi...Abi..."Namun, ia segera terhenti berteriak memanggil sang ba pak ketika teringat kemarin sore bapaknya diseret dari rumah oleh beberapa orang berseragam."Hai...siapa kamu?!" teriak segerombolan orang yang tiba-tiba mendekatisang bocah. "Saya Ahmad Izzah, sedang menunggu Ummi..." jawab sang bocah memohon belas kasih. "Hah...siapa namamu bocah, coba ulangi!" bentak salah seorang dari mereka. "Saya Ahmad Izzah..." sang bocah kembali menjawab dengan agak grogi. Tiba-tiba plak! sebuah tamparan mendarat dipipi sang bocah. "Hai bocah...! Wajahmu bagus tapinamamu jelek. Aku benci namamu. Sekarang kuganti namamu dengan nama yang bagus. Namamu sekarang 'Adolf Roberto' ..Awas! Jangan kau sebut lagi namamu yang jelek itu. Kalau kau sebut lagi nama lamamu itu, nanti akan kubunuh!" ancam laki2 itu. Sang bocah meringis ketakutan, sembari tetap meneteskan air mata. Anak laki-laki mungil itu hanya menurut ketika gerombolan itu membawanya keluar lapanganInkuisisi. Akhirnya bocah tampan itu hidup bersama mereka.*******************************************************Roberto sedar dari renungannya yang panjang. Pemuda itu melompat ke arah sang tahanan. Secepat kilat dirobeknya baju penjara yang melekat pada tubuh sang ustadz. Ia mencari-cari sesuatu di pusar laki-laki itu. Ketika ia menemukan sebuah 'tanda hitam' ia berteriak histeris, "Abi...Abi...Abi..." Ia pun menangis keras, tak ubahnya seperti Ahmad Izzah dulu.Fikirannya terus bergelut dengan masa lalunya. Ia masih ingat betul, bahwa buku kecil yang ada di dalam menggamannya adalah Kitab Suci milik bapanya, yang dulu sering dibawa dan dibaca ayahnya ketika hendak menidurkannya. Ia jua ingat betul ayahnya mempunyai'tanda hitam' pada bahagian pusar. Pemuda beringas itu terus meraung dan memeluk erat tubuh renta nan lemah. Tampak sekali ada penyesalan yang amat dalam atas ulahnya selama ini.Lidahnya yang sudah berpuluh -puluh tahun alpa akan Islam, saat itu dengan spontan menyebut, "Abi.. aku masih ingat alif, ba, ta, tsa..." Hanya sebatas kata itu yang masih terekam dalam benaknya.Sang ustadz segera membuka mata ketika merasakan ada tetesan hangat yang membasahi wajahnya. Dengan tatapan samar dia masih dapat melihat seseorang yang tadi menyiksanya habis-habisan kini tengah memeluknya."Tunjuki aku pada jalan yang telah engkau tempuhi Abi,tunjukkan aku pada jalan itu..." Terdengar suara Roberto memelas. Sang ustadz tengah mengatur nafas untuk berkata-kata, ia lalu memejamkan matanya. Air matanya pun turut berlinang. Betapa tidak, jika sekian puluh tahun kemudian, ternyata ia masih sempat berjumpa dengan buah hatinya, di tempat ini. Sungguh tak masuk akal. Ini semata-mata buktikebesaran Allah.Sang Abi dengan susah payah masih bisa berucap." Anakku, pergilah engkau ke Mesir. Disana banyak saudaramu. Katakan saja bahwa engkau kenal dengan Syaikh Abdullah Fattah Ismail Al-Andalusy. Belajarlah engkau di negeri itu," Setelah selesai berpesan sang ustadz menghembuskan nafas terakhir dengan berbekal kalimah indah "Asyahadu anla Illaaha ilallah,waasyhadu anna Muhammad Rasullullah.." Beliau pergi dengan menemui Rabbnya dengan tersenyum, setelah sekian lama berjuang dibumi yang fana ini.Kini Ahmad Izzah telah menjadi seorang alim di Mesir.Seluruh hidupnya dibaktikan untuk agamanya, 'Islam', sebagai gantikekafiran yang di masa muda sempat disandangnya. Banyak pemuda Islam dari berbagai penjuru berguru dengannya... " Al-Ustadz Ahmad Izzah Al-Andalusy.Benarlah firman Allah..."Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah, tetaplah atas fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrahnya itu. Tidak ada perubahan atas fitrah Allah. Itulah agama yang lurus,tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS 30:30)