Find The Way to Heaven

Blog ini saya buat untuk berbagi diantara kita, apakah itu Diskusi, Forum, Komentar, maupun Bisnis yang bertujuan untuk mencapai cita-cita serta tujuan hidup kita kelak

Monday, October 16, 2006

Hikmah Kematian

Kehidupan berlangsung tanpa disadari dari detik ke detik. Apakah anda tidak menyadari bahwa hari-hari yang anda lewati justru semakin mendekatkan anda kepada kematian sebagaimana juga yang berlaku bagi orang lain?
Seperti yang tercantum dalam ayat “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kemudian hanyalah kepada Kami kamu dikembalikan.” (QS. 29:57) tiap orang yang pernah hidup di muka bumi ini ditakdirkan untuk mati. Tanpa kecuali, mereka semua akan mati, tiap orang. Saat ini, kita tidak pernah menemukan jejak orang-orang yang telah meninggal dunia. Mereka yang saat ini masih hidup dan mereka yang akan hidup juga akan menghadapi kematian pada hari yang telah ditentukan. Walaupun demikian, masyarakat pada umumnya cenderung melihat kematian sebagai suatu peristiwa yang terjadi secara kebetulan saja.
Coba renungkan seorang bayi yang baru saja membuka matanya di dunia ini dengan seseorang yang sedang mengalami sakaratul maut. Keduanya sama sekali tidak berkuasa terhadap kelahiran dan kematian mereka. Hanya Allah yang memiliki kuasa untuk memberikan nafas bagi kehidupan atau untuk mengambilnya.
Semua makhluk hidup akan hidup sampai suatu hari yang telah ditentukan dan kemudian mati; Allah menjelaskan dalam Quran tentang prilaku manusia pada umumnya terhadap kematian dalam ayat berikut ini:
Katakanlah: “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada (Allah), yang mengetahui yang gaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan.” (QS. 62:8)
Kebanyakan orang menghindari untuk berpikir tentang kematian. Dalam kehidupan modern ini, seseorang biasanya menyibukkan dirinya dengan hal-hal yang sangat bertolak belakang [dengan kematian]; mereka berpikir tentang: di mana mereka akan kuliah, di perusahaan mana mereka akan bekerja, baju apa yang akan mereka gunakan besok pagi, apa yang akan dimasak untuk makan malam nanti, hal-hal ini merupakan persoalan-persoalan penting yang sering kita pikirkan. Kehidupan diartikan sebagai sebuah proses kebiasaan yang dilakukan sehari-hari. Pembicaraan tentang kematian sering dicela oleh mereka yang merasa tidak nyaman mendengarnya. Mereka menganggap bahwa kematian hanya akan terjadi ketika seseorang telah lanjut usia, seseorang tidak ingin memikirkan tentang kematian dirinya yang tidak menyenangkannya ini. Sekalipun begitu ingatlah selalu, tidak ada yang menjamin bahwa seseorang akan hidup dalam satu jam berikutnya. Tiap hari, orang-orang menyaksikan kematian orang lain di sekitarnya tetapi tidak memikirkan tentang hari ketika orang lain menyaksikan kematian dirinya. Ia tidak mengira bahwa kematian itu sedang menunggunya!
Ketika kematian dialami oleh seorang manusia, semua “kenyataan” dalam hidup tiba-tiba lenyap. Tidak ada lagi kenangan akan “hari-hari indah” di dunia ini. Renungkanlah segala sesuatu yang anda dapat lakukan saat ini: anda dapat mengedipkan mata anda, menggerakkan badan anda, berbicara, tertawa; semua ini merupakan fungsi tubuh anda. Sekarang renungkan bagaimana keadaan dan bentuk tubuh anda setelah anda mati nanti.
Dimulai saat anda menghembuskan napas untuk yang terakhir kalinya, anda tidak ada apa-apanya lagi selain “seonggok daging”. Tubuh anda yang diam dan terbujur kaku, akan dibawa ke kamar mayat. Di sana, ia akan dimandikan untuk yang terakhir kalinya. Dengan dibungkus kain kafan, jenazah anda akan di bawa ke kuburan dalam sebuah peti mati. Sesudah jenazah anda dimasukkan ke dalam liang lahat, maka tanah akan menutupi anda. Ini adalah kesudahan cerita anda. Mulai saat ini, anda hanyalah seseorang yang namanya terukir pada batu nisan di kuburan.
Selama bulan-bulan atau tahun-tahun pertama, kuburan anda sering dikunjungi. Seiring dengan berlalunya waktu, hanya sedikit orang yang datang. Beberapa tahun kemudian, tidak seorang pun yang datang mengunjungi.
Sementara itu, keluarga dekat anda akan mengalami kehidupan yang berbeda yang disebabkan oleh kematian anda. Di rumah, ruang dan tempat tidur anda akan kosong. Setelah pemakaman, sebagian barang-barang milik anda akan disimpan di rumah: baju, sepatu, dan lain-lain yang dulu menjadi milik anda akan diberikan kepada mereka yang memerlukannya. Berkas-berkas anda di kantor akan dibuang atau diarsipkan. Selama tahun-tahun pertama, beberapa orang masih berkabung akan kepergian anda. Namun, waktu akan mempengaruhi ingatan-ingatan mereka terhadap masa lalu. Empat atau lima dasawarsa kemudian, hanya sedikit orang saja yang masih mengenang anda. Tak lama lagi, generasi baru muncul dan tidak seorang pun dari generasi anda yang masih hidup di muka bumi ini. Apakah anda diingat orang atau tidak, hal tersebut tidak ada gunanya bagi anda.
Sementara semua hal ini terjadi di dunia, jenazah yang ditimbun tanah akan mengalami proses pembusukan yang cepat. Segera setelah anda dimakamkan, maka bakteri-bakteri dan serangga-serangga berkembang biak pada mayat tersebut; hal tersebut terjadi dikarenakan ketiadaan oksigen. Gas yang dilepaskan oleh jasad renik ini mengakibatkan tubuh jenazah menggembung, mulai dari daerah perut, yang mengubah bentuk dan rupanya. Buih-buih darah akan meletup dari mulut dan hidung dikarenakan tekanan gas yang terjadi di sekitar diafragma. Selagi proses ini berlangsung, rambut, kuku, tapak kaki, dan tangan akan terlepas. Seiring dengan terjadinya perubahan di luar tubuh, organ tubuh bagian dalam seperti paru-paru, jantung dan hati juga membusuk. Sementara itu, pemandangan yang paling mengerikan terjadi di sekitar perut, ketika kulit tidak dapat lagi menahan tekanan gas dan tiba-tiba pecah, menyebarkan bau menjijikkan yang tak tertahankan. Mulai dari tengkorak, otot-otot akan terlepas dari tempatnya. Kulit dan jaringan lembut lainnya akan tercerai berai. Otak juga akan membusuk dan tampak seperti tanah liat. Semua proses ini berlangsung sehingga seluruh tubuh menjadi kerangka.
Tidak ada kesempatan untuk kembali kepada kehidupan yang sebelumnya. Berkumpul bersama keluarga di meja makan, bersosialisasi atau memiliki pekerjaan yang terhormat; semuanya tidak akan mungkin terjadi.
Singkatnya, “onggokkan daging dan tulang” yang tadinya dapat dikenali; mengalami akhir yang menjijikkan. Di lain pihak, anda – atau lebih tepatnya, jiwa anda – akan meninggalkan tubuh ini segera setelah nafas anda berakhir. Sedangkan sisa dari anda – tubuh anda – akan menjadi bagian dari tanah.
Ya, tetapi apa alasan semua hal ini terjadi?
Seandainya Allah ingin, tubuh ini dapat saja tidak membusuk seperti kejadian di atas. Tetapi hal ini justru menyimpan suatu pesan tersembunyi yang sangat penting
Akhir kehidupan yang sangat dahsyat yang menunggu manusia; seharusnya menyadarkan dirinya bahwa ia bukanlah hanya tubuh semata, melainkan jiwa yang “dibungkus” dalam tubuh. Dengan lain perkataan, manusia harus menyadari bahwa ia memiliki suatu eksistensi di luar tubuhnya. Selain itu, manusia harus paham akan kematian tubuhnya - yang ia coba untuk miliki seakan-akan ia akan hidup selamanya di dunia yang sementara ini -. Tubuh yang dianggapnya sangat penting ini, akan membusuk serta menjadi makanan cacing suatu hari nanti dan berakhir menjadi kerangka. Mungkin saja hal tersebut segera terjadi.
Walaupun setelah melihat kenyataan-kenyataan ini, ternyata mental manusia cenderung untuk tidak peduli terhadap hal-hal yang tidak disukai atau diingininya. Bahkan ia cenderung untuk menafikan eksistensi sesuatu yang ia hindari pertemuannya. Kecenderungan seperti ini tampak terlihat jelas sekali ketika membicarakan kematian. Hanya pemakaman atau kematian tiba-tiba keluarga dekat sajalah yang dapat mengingatkannya [akan kematian]. Kebanyakan orang melihat kematian itu jauh dari diri mereka. Asumsi yang menyatakan bahwa mereka yang mati pada saat sedang tidur atau karena kecelakaan merupakan orang lain; dan apa yang mereka [yang mati] alami tidak akan menimpa diri mereka! Semua orang berpikiran, belum saatnya mati dan mereka selalu berpikir selalu masih ada hari esok untuk hidup.
Bahkan mungkin saja, orang yang meninggal dalam perjalanannya ke sekolah atau terburu-buru untuk menghadiri rapat di kantornya juga berpikiran serupa. Tidak pernah terpikirkan oleh mereka bahwa koran esok hari akan memberitakan kematian mereka. Sangat mungkin, selagi anda membaca artikel ini, anda berharap untuk tidak meninggal setelah anda menyelesaikan membacanya atau bahkan menghibur kemungkinan tersebut terjadi. Mungkin anda merasa bahwa saat ini belum waktunya mati karena masih banyak hal-hal yang harus diselesaikan. Namun demikian, hal ini hanyalah alasan untuk menghindari kematian dan usaha-usaha seperti ini hanyalah hal yang sia-sia untuk menghindarinya:
Katakanlah: “Lari itu sekali-kali tidaklah berguna bagimu, jika kamu melarikan diri dari kematian atau pembunuhan, dan jika (kamu terhindar dari kematian) kamu tidak juga akan mengecap kesenangan kecuali sebentar saja.” (QS. 33:16)
Manusia yang diciptakan seorang diri haruslah waspada bahwa ia juga akan mati seorang diri. Namun selama hidupnya, ia hampir selalu hidup untuk memenuhi segala keinginannya. Tujuan utamanya dalam hidup adalah untuk memenuhi hawa nafsunya. Namun, tidak seorang pun dapat membawa harta bendanya ke dalam kuburan. Jenazah dikuburkan hanya dengan dibungkus kain kafan yang dibuat dari bahan yang murah. Tubuh datang ke dunia ini seorang diri dan pergi darinya pun dengan cara yang sama. Modal yang dapat di bawa seseorang ketika mati hanyalah amal-amalnya saja. (di kutip dari Harun Yahya)

Sunday, October 15, 2006

Call Centre 24 hours

Assalaamu'alaikum, Saudara-saudaraku...

Pernahkah Anda bayangkan bila pada saat kita berdoa, kita mendengar ini:"Terima kasih, Anda telah menghubungi Baitullah"."Tekan 1 untuk 'meminta'.Tekan 2 untuk 'mengucap syukur'.Tekan 3 untuk 'mengeluh'.Tekan 4 untuk 'permintaan lainnya'."Atau....

Bagaimana jika Malaikat memohon maaf seperti ini:

"Saat ini semua malaikat sedang membantu pelanggan lain. Tetaplah sabar menunggu. Panggilan Anda akan dijawab berdasarkan urutannya."Atau, bisakah Anda bayangkan bila pada saat berdoa, Anda mendapat respons seperti ini:"Jika Anda ingin berbicara dengan Malaikat,Tekan 1. Dengan Malaikat Mikail,Tekan 2. Dengan malaikat lainnya,Tekan 3. Jika Anda ingin mendengar sari tilawah saat Anda menunggu,Tekan 4. "Untuk jawaban pertanyaan tentang hakekat surga & neraka, silahkan tunggu sampai Anda tiba di sini!!"Atau bisa juga Anda mendengar ini :"Komputer kami menunjukkan bahwa Anda telah satu kali menelpon hari ini. Silakan mencoba kembali esok hari."

atau...

"Kantor ini ditutup pada akhir minggu. Silakan menelpon kembali hari Senin setelah pukul 9 pagi."

Alhamdulillah... Allah SWT mengasihi kita, Anda dapat menelpon-Nya setiap saat!!!Anda hanya perlu untuk memanggilnya kapan saja dan Dia mendengar Anda. Karena bila memanggil Allah, Anda tidak akan pernah mendapat nada sibuk. Allah menerima setiap panggilan dan mengetahui siapa pemanggilnya secara pribadi.Ketika Anda memanggil-Nya, gunakan nomor utama ini: 244342 : shalat Subuh4 : shalat Zuhur4 : shalat Ashar3 : shalat Maghrib4 : shalat IsyaAtau untuk lebih lengkapnya dan lebih banyak kemashlahatannya, gunakan nomor ini : 284434832 : shalat Subuh8 : Shalat Dhuha4 : shalat Zuhur4 : shalat Ashar3 : shalat Maghrib4 : shalat Isya8 : Shalat Lail (tahajjud atau lainnya)3 : Shalat WitirInfo selengkapnya ada di Buku Telepon berjudul "Al Qur'anul Karim & Hadist Rasul"Langsung hubungi, tanpa Operator tanpa Perantara, tanpa dipungut biaya.Nomor 24434 dan 28443483 ini memiliki jumlah saluran hunting yang tak terbatas dan seluruhnya buka 24 jam sehari 7 hari seminggu 365 hari setahun!!!Sebarkan informasi ini kepada orang-orang di sekeliling kita.Mana tahu mungkin mereka sedang membutuhkannyaSabda Rasulullah S.A.W : "Barang siapa hafal tujuh kalimat, ia terpandang mulia di sisi Allah dan Malaikat serta diampuni dosa-dosanya walau sebanyak buih laut"
7 Kalimah ALLAH:1. Mengucap "Bismillah" pada tiap-tiap hendak melakukan sesuatu.2. Mengucap "Alhamdulillah" pada tiap-tiap selesai melakukan sesuatu.3. Mengucap "Astaghfirullah" jika lidah terselip perkataan yang tidak patut.4. Mengucap "Insya-Allah" jika merencanakan berbuat sesuatu di hari esok.5. Mengucap "La haula wala kuwwata illa billah" jika menghadapi sesuatu tak disukai dan tak diingini.6. Mengucap "inna lillahi wa inna ilaihi rajiun" jika menghadapi dan menerima musibah.7. Mengucap "La ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah" sepanjang siang dan malam sehingga tak terpisah dari lidahnya.Dari tafsir Hanafi, mudah-mudahan ingat, walau lambat-lambat... mudah-mudahan selalu, walau sambil lalu... mudah-mudahan jadi bisa, karena sudah biasa.

Saturday, October 14, 2006

Terlena

Saya jadi ingat cerita seokor burung yang pernah saya baca dari sebuah buku sebagai bahan renungan. Singkat cerita, burung itu sedang terbang di angkasa pada musim dingin, karena terlampau dingin hingga turun salju dengan lebat, maka tiba-tiba burung yang sedang terbang itu jatuh tidak dapat terbang karena membeku sayapnya. Ketika sudah jatuh ia sulit untuk menggerakkan sayapnya. Tiba-tiba lewat seekor sapi, ketika lewat tepat diatas burung itu si sapi itu membuang kotorannya dan tepat mengenai burung tersebut sehingga tubuhnya tertutup semua oleh kotoran sapi tadi. Kontan munculah sumpah serapah dari si burung tadi,"sialan tuh sapi pada situasi yang tidak berdaya, masih saja tertimpa musibah". Lalu beberapa saat kemudian si burung sudah dapat merasakan gerakan sayapnya, walaupun sedikit demi sedikit dikarenakan hawa panas dari kotoran tadi melelehkan es di tubuh si burung. Bersamaan dengan itu lewatlah seokor kucing tepat di hadapan si burung tadi, lalu si burung bergumam,"wah gawat...! bisa mati aku...." karena ia masih susah untuk terbang lagi karena masih banyak kotoran sapi yang menempel di tubuh burung tadi. Ketika kucing itu mendekat burung itu dijilati, jilatan demi jilatan sehingga bersih kembali tubuh burung tersebut. Si burung bergumam lagi, "ooo...ternyata kucing ini baik sekali, karena sudah membersihkan tubuhku dari kotoran sapi yang menyebalkan ini" dan merasa keenakan si burung jadi "terlena" akan jilatan-jilatan kucing tersebut dan merasa tenang dan nyaman di dekat si kucing tadi. Tetapi lama-kelamaan ketika tubuh si burung sudah kembali bersih seperti sedia kala, masih saja si burung merasa keenakkan karena dijilati oleh si kucing, malah jadi tertidur si burung tadi. Tapi, tiba-tiba si kucing tadi menerkam dan memakan burung tadi dengan seketika. Tanpa bisa sempat berpikir dan berkata-kata lagi matilah si burung tadi.

Teman, bila anda menyimak kisah tadi tentu ada hikmah yang mungkin dapat diambil oleh kita semua bagaimana kita ini hidup seharusnya, karena hidup itu sementara sifatnya

Friday, October 13, 2006

Yang harus Dicamkan Dalam Hati

Kita tau mengenai "hari" (day), maka kita harus benar-benar camkan didalam hati bahwa, "harimu adalah hari ini, yakni bila hari ini anda memakan nasi hangat yang harum baunya, maka apakah nasi basi yang telah anda makan kemarin atau nasi esok hari (yang belum tentu ada) itu akan merugikan anda?". Ya Allah aku memohon ampun kepada-MU kebaikan hari ini, berkahNYA, pertolonganNYA, cahayaNYA, dan hidayahNYA. Amin.

Wednesday, October 11, 2006

Kekeliruan di bulan Ramadhan

Meski Ramadhan bulan adalah bulan ampunan, untuk menyambut bulan suci Ramadhan yang kini ‘menyapa’ kita, di bawah ini kami sarikan 16 kekeliruan umum yang sering dialami umat Islam selama Ramadhan
Hanya orang yang tidak tahu dan enggan saja yang tidak segera bergegas menyambut bulan suci ini dalam arti yang sebenarnya, lahir maupun batin. “Berapa banyak orang yang berpuasa (tapi) tak memperoleh apa-apa dari puasanya selain rasa lapar dan dahaga belaka”. (HR. Ibnu Majah & Nasa’i)
Namun, setiap kali usai kita menunaikan ibadah shiyam, nampaknya terasa ada saja yang kurang sempurna dalam pelaksanaannya, semoga poin-poin kesalahan yang acap kali masih terulang dan menghinggapi sebagian besar umat ini dapat memberi kita arahan dan panduan agar puasa kita tahun ini, lebih paripurna dan bermakna.
1. Merasa sedih, malas, loyo dan tak bergairah menyambut bulan suci Ramadhan
Acapkali perasaan malas segera menyergap mereka yang enggan menahan rasa payah dan penat selama berpuasa. Mereka berasumsi bahwa puasa identik dengan istirahat, break dan aktifitas-aktifitas non-produktif lainnya, sehingga ini berefek pada produktifitas kerja yang cenderung menurun. Padahal puasa mendidik kita untuk mampu lebih survive dan lebih memiliki daya tahan yang kuat. Sejarah mencatat bahwa kemenangan-kemenang an besar dalam futuhaat (pembebasan wilayah yang disertai dengan peperangan) yang dilancarkan oleh Rasul dan para sahabat, terjadi di tengah bulan Ramadhan.
Semoga ini menjadi motivator bagi kita semua, agar tidak bermental loyo & malas dan tidak berlindung di balik kata “Aku sedang puasa”.
2. Berpuasa tapi enggan melaksanakan shalat fardhu lima waktu
Ini penyakit yang –diakui atau tidak– menghinggapi sebagian umat Islam, mereka mengira bahwa Ramadhan cukup dijalani dengan puasa semata, tanpa mau repot mengiringinya dengan ibadah shalat fardhu. Padahal shalat dan puasa termasuk rangkaian kumulatif (rangkaian yang tak terpisah/satu paket) rukun Islam, sehingga konsekwensinya, bila salah satunya dilalaikan, maka akan berakibat gugurnya predikat “Muslim” dari dirinya.
3. Berlebih-lebihan dan boros dalam menyiapkan dan menyantap hidangan berbuka serta sahur
Ini biasanya menimpa sebagian umat yang tak kunjung dewasa dalam menyikapi puasa Ramadhan, kendati telah berpuluh-puluh kali mereka melakoni bulan puasa tetapi tetap saja paradigma mereka tentang ibadah puasa tak kunjung berubah. Dalam benak mereka, saat berbuka adalah saat “balas dendam” atas segala keterkekangan yang melilit mereka sepanjang + 12 jam sebelumnya, tingkah mereka tak ubahnya anak berusia 8-10 tahun yang baru belajar puasa kemarin sore.
4. Berpuasa tapi juga melakukan ma’siat
Asal makna berpuasa bermakna menahan diri dari segala aktifitas, dalam Islam, ibadah puasa membatasi kita bukan hanya dari aktifitas yang diharamkan di luar Ramadhan, bahkan puasa Ramadhan juga membatasi kita dari hal-hal yang halal di luar Ramadhan, seperti; Makan, minum, berhubungan suami-istri di siang hari.
Kesimpulannya, jika yang halal saja kita dibatasi, sudah barang tentu hal yang haram, jelas lebih dilarang.
Sehingga dengan masa training selama sebulan ini akan mendidik kita menahan pandangan liar kita, menahan lisan yang tak jarang lepas kontrol, dsb.
“Barang siapa yang belum mampu meninggalkan perkataan dosa (dusta, ghibah, namimah dll.) dan perbuatan dosa, maka Allah tak membutuhkan puasanya (pahala puasanya tertolak).
5. Sibuk makan sahur sehingga melalaikan shalat shubuh, sibuk berbuka sehingga melupakan shalat maghrib
Para pelaku poin ini biasanya derivasi dari pelaku poin 3, mengapa ? Sebab cara pandang mereka terhadap puasa tak lebih dari ; “Agar badan saya tetap fit dan kuat selama puasa, maka saya harus makan banyak, minum banyak, tidur banyak sehingga saya tak loyo”. Kecenderungan terhadap hak-hak badan yang over (berlebihan) .
6. Masih tidak merasa malu membuka aurat (khusus wanita muslimah)
Sebenarnya momen Ramadhan bila dijalani dengan segala kerendahan hati, akan mampu menyingkap hijab ketinggian hati dan kesombongan sehingga seorang Muslimah akan mampu menerima segala tuntunan dan tuntutan agama ini dengan hati yang lapang. Menutup aurat, misalnya, akan lebih mudah direalisasi ketimbang di bulan selain Ramadhan. Mari kita hindari sifat-sifat nifaq yang pada akhir-akhir ini sangat diumbar dan dianggap sah, Ramadhan serba tertutup, saat lepas Ramadhan, lepas pula jilbabnya, inilah sebuah contoh pemahaman agama yang parsial (setengah-setengah) , tidak utuh.
6. Menghabiskan waktu siang hari puasa dengan tidur berlebihan
Barangkali ini adalah akibat dari pemahaman yang kurang tepat dari sebuah hadits Rasul yang berbunyi “Tidurnya orang yang berpuasa adalah ibadah” Memang selintas prilaku tidur di siang hari adalah sah dengan pedoman hadits diatas, namun tidur yang bagaimana yang dimaksud oleh hadits diatas? Tentu bukan sekedar tidur yang ditujukan untuk sekedar menghabiskan waktu, menunggu waktu ifthar (berbuka) atau sekedar bermalas-malasan, sehingga tak heran bila sebagian -besar- umat ini bermental loyo saat berpuasa Ramadhan.
Lebih tepat bila hadits diatas difahami dengan; Aktifitas tidur ditengah puasa yang berpahala ibadah adalah bila ;
Tidur proporsional tersebut adalah akibat dari letih dan payahnya fisik kita setelah beraktifitas; Mencari rezeki yang halal, beribadah secara khusyu’ dsb.
Tidur proporsional tersebut diniatkan untuk persiapan qiyamullail (menghidupkan saat malam hari dengan ibadah)
Tidur itu diniatkan untuk menghindari aktifitas yang –bila tidak tidur- dikhawatirkan akan melanggar rambu-rambu ibadah Ramadhan, semisal ghibah (menggunjing) , menonton acara-acara yang tidak bermanfaat, jalan-jalan untuk cuci mata dsb.
Pemahaman hadits diatas nyaris sama dengan pemahaman hadits yang menyatakan bahwa bau mulut orang yang berpuasa lebih harum daripada minyak misk (wangi) disisi Allah, bila difahami selintas maka akan menghasilkan pengamalan hadits yang tidak proporsional, seseorang akan meninggalkan aktifitas gosok gigi dan kebersihan mulutnya sepanjang 29 hari karena ingin tercium bau wangi dari mulutnya, faktanya bau mulut orang yang berpuasa tetap saja akan tercium kurang sedap karena faktor-faktor alamiyah, adapun bau harum tersebut adalah benar adanya secara maknawi tetapi bukan secara lahiriyah, secara fiqh pun, bersiwak atau gosok gigi saat puasa adalah mubah (diperbolehkan)
7. Meninggalkan shalat tarwih tanpa udzur/halangan
Benar bahwa shalat tarawih adalah sunnah tetapi bila dikaji secara lebih seksama niscaya kita akan dapatkan bahwa berpuasa Ramadhan minus shalat tarawih adalah suatu hal yang disayangkan, mengingat amalan sunnah di bulan ini diganjar sama dengan amalan wajib.
8. Masih sering meninggalkan shalat fardhu 5 waktu secara berjama’ah tanpa udzur/halangan ( terutama untuk laki-laki muslim )
Hukum shalat fardhu secara berjama’ah di masjid di kalangan para fuqaha’ adalah fardhu kifayah, bahkan ada yang berpendapat bahwa hukumnya adalah fardhu ‘ain, berdasarkan hadits Rasulullah SAW yang mengisahkan bahwa beliau rasanya ingin membakar rumah kaum Muslimin yang tidak shalat berjama’ah di masjid, sebagai sebuah ungkapan atas kekecewaan beliau yang dalam atas kengganan umatnya pergi ke masjid.
9. Bersemangat dan sibuk beribadah sunnah selama Ramadhan tetapi setelah Ramadhan berlalu, shalat fardhu lima waktu masih tetap saja dilalaikan
Ini pun contoh dari orang yang tertipu dengan Ramadhan, hanya sedikit lebih berat dibanding poin-poin diatas. Karena mereka Hanya beribadah di bulan Ramadhan, itupun yang sunnah-sunnah saja, semisal shalat tarawih, dan setelah Ramadhan berlalu, berlalu pula ibadah shalat fardhunya.
10. Semakin jarang membaca Al Qur’an dan maknanya
11. Semakin jarang bershadaqah
12. Tidak termotivasi untuk banyak berbuat kebajikan
13. Tidak memiliki keinginan di hatinya untuk memburu malam Lailatul Qadar
Poin nomor 8, 10, 11, 12 dan 13 secara umum, adalah indikasi-indikasi kecilnya ilmu, minat dan apresiasi yang dimiliki oleh seseorang terhadap bulan Ramadhan, karena semakin besar perhatian dan apresiasi seseorang kepada Ramadhan, maka sebesar itu pula ibadah yang dijalankannya selama Ramadhan.
14. Biaya belanja & pengeluaran ( konsumtif ) selama bulan Ramadhan lebih besar & lebih tinggi daripada pengeluaran di luar bulan Ramadan (kecuali bila biaya pengeluaran itu untuk shadaqah)
15. Lebih menyibukkan diri dengan belanja baju baru, camilan & masak-memasak untuk keperluan hari raya pada 10 hari terakhir bulan Ramadhan
16. Lebih sibuk memikirkan persiapan hari raya daripada amalan puasa
Mereka lebih sibuk apa yang dipakai di hari raya dibanding memikirkan apakah puasanya pada tahun ini diterima oleh Allah Ta’aala atau tidak Orang-orang yang biasanya mengalami poin-poin nomor 14, 15 dan 16 adalah orang-orang yang tertipu oleh “fatamorgana Ramadhan”, betapa tidak ? Pada hari-hari puncak Ramadhan, mereka malah menyibukkan diri mereka dan keluarganya dengan belanja ini-itu, substansi puasa yang bermakna menahan diri, justru membongkar jati diri mereka yang sebenarnya, pribadi-pribadi “produk Ramadhan” yang nampak begitu konsumtif, memborong apa saja yang mereka mampu beli. Tak terasa ratusan ribu hingga jutaan rupiah mengalir begitu saja, padahal di luar Ramadhan, belum tentu mereka lakukan. Semoga sentilan yang menyatakan bahwa orang Islam tidak konsisten dengan agamanya, karena di bulan Ramadhan yang seharusnya bersemangat menahan diri dan berbagi, ternyata malah memupuk semangat konsumerisme dan cenderung boros, dapat menggugah kita dari “fatamorgana Ramadhan”.
Semoga Allah menganugerahi kita dengan rahmat-Nya, sehingga mampu menghindari kesalahan-kesalahan yang kerap kali menghinggapi mayoritas umat ini, amin. Hanya dengan keikhlasan, perenungan dan napak tilas Rasul, insya Allah kita mampu meng-up grade (naik kelas) puasa kita, wallaahu a’lam bis shawaab. (Ahmad Rizal, Alumni STAIL, dan KMI Gontor-Ponorogo/ Hidayatullah)

Pakaian Dunia

Penduduk Desa Karanganyar tidak tahu apa kerja Marwan di kota besar. Yang terang setelah dua tahun merantau Marwan pulang mengendarai mobil bagus. Kepada Pak Lurah ia bilang akan membangun rumah dan makam ibunya. Malam itu Marwan menemui Pak Lurah setelah siang tadi ibunya dikuburkan."Saya ingin menunjukkan kepada ibu bahwa anaknya telah berhasil.""Tapi ibumu sudah meninggal, Marwan?""Yang mati kan hanya jasadnya Pak Lurah. Ruh ibu saya akan senang sekali melihat rumah dan makamnya dibangun indah."Pak Lurah hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil istighfar."Terserah kamu lah, Wan. Kamu yang punya uang."Selama tiga tahun merantau Marwan tidak pernah pulang. Ia juga tidak pernah memberi kabar, apalagi kirim uang kepada ibunya. Karena itu, Mbok Surti, ibunya, menyusul ke kota. Namun, tidak begitu jelas apa yang terjadi, pulang dari kota Mbok Surti sakit keras. Dalam sakitnya ia selalu mengatakan tiga kalimat pendek, "Dosa Marwan. Dosa! Dosa Marwan. Dosa! Dosa Marwan. Dosa!" Hanya tiga kata itu yang entah berapa ratus kali diucapkan Mbok Surti dalam sakitnya.Akhirnya Mbok Surti meninggal dunia. Marwan pulang dengan membawa mobil bagus dan seorang perempuan cantik. Ketika para takziah sudah meninggalkan kompleks makam Marwan masih menangis tersedu sambil memeluk batu nisan makam ibunya.Kyai Muslih, guru mengaji Marwan semasa ia masih kanak-kanak di desa itu, mendekatinya. Sementara perempuan teman Marwan menunggu di dalam mobil yang diparkir di jalan depan kompleks makam.Kyai Muslih menepuk-nepuk pundak Marwan."Sudahlah, anakku, kamu boleh sedih karena ibumu meninggal. Tetapi jangan berlebihan. Allah tidak suka kepada segala sesuatu yang melampaui batas. Walaupun kamu menumpahkan seluruh air matamu sampai kering, ibumu tidak akan pernah kembali. Yang menolong perjalanan ibumu menghadap Allah bukan air matamu, tetapi doamu, doa anak sholeh. Maka jadilah kamu anak sholeh Marwan.""Saya berjanji, Kyai.""Tidak usah berjanji. Niatkan saja di dalam hatimu. Akan lebih berdosa kalau kamu berjanji tidak kamu tepati."Marwan meninggalkan kompleks makam dengan wajah kuyu. Tapi orang tidak tahu apa yang ada dalam pikiran dan perasaan Marwan. Apakah ia sungguh-sungguh bersedih atas kematian ibunya atau hanya berpura-pura sedih. Sebab, malam itu ketika orang-orang mengaji di ruang depan, di kamar tertutup Marwan malah tertawa-tawa dengan perempuan yang dibawanya dari kota itu.Ia bilang perempuan itu istrinya. Tetapi ada yang mengatakan bahwa Marwan belum menikahi perempuan itu. Bahkan beberapa orang bilang Mbok Surti jatuh sakit dan kemudian meninggal dunia setelah melihat Marwan hidup bersama tanpa nikah dengan perempuan itu. Mbok Surti merasa belum pernah menikahkan anak lelakinya itu dengan perempuan mana pun. Setelah tujuh hari kemudian Mbok Surti, Marwan menemui Kyai Muslih untuk minta ijin memugar makam ibunya."Kamu tidak perlu minta ijin kepadaku, Marwan. Bukan saya yang memiliki wewenang atas makam itu. Dan lagi, sepengetahuan saya, tidak pernah ada larangan memugar makam di desa ini. Tapi, kamu harus memperhitungkan tempat. Memugarnya jangan terlalu lebar, agar orang lain juga mendapat tempat. Ingat Marwan, makam itu bukan milik pribadi.""Saya sudah pesan marmer kelas satu dari Tulungagung, Kyai.""Sebenarnya tidak perlu yang mahal-mahal. Orang yang sudah meninggal tidak membutuhkan semua itu.""Selama ibu masih hidup, saya belum sempat berbakti kepadanya, Kyai. Saya menyesal karena waktu itu saya miskin. Sekarang saya sudah punya banyak uang.""Kamu salah mengerti Marwan. Mbok Surti sudah meninggal dunia. Ibumu tidak lagi memerlukan pakaian dunia. Batu nisan mahal, marmer kelas satu, adalah pakaian dunia. Hanya orang-orang yang hidup di dunia ini yang bisa menikmatinya. Yang dibutuhkan ibumu saat ini adalah pakaian akhirat. Ibumu hanya memerlukan doa kamu. Yang saya sebut pakaian akhirat ya doa kamu itu. Apalagi kamu anak laki-laki satu-satunya."Marwan diam saja. Tapi dari wajahnya menunjukkan bahwa ia tidak sepakat dengan apa yang dikatakan Kyai Muslih. "Marwan, apakah kamu lupa hanya ada tiga amalan yang tidak putus-putusnya meskipun seseorang sudah meninggal. Pertama amal jariyah, kedua ilmu yang bermanfaat, dan ketiga doa anak sholeh?""Saya tahu, Kyai. Tapi sebelum saya jadi anak sholeh, sudilah Kyai berdoa di makam ibu saya setelah pemugaran nanti?""Berdoa itu baik, Marwan. Di mana saja di bumi Tuhan ini kita boleh berdoa. Juga di kuburan. Semua itu tergantung nawaitu-nya, atau niatnya. Kalau kamu datang ke kuburan, jangan lupa berdoalah untuk mereka. Jangan terbalik, kamu malah meminta doa kepada orang yang sudah meninggal. Orang hidup mendoakan orang mati bukan orang mati mendoakan orang hidup."Namun, Marwan pantang mundur. Tekadnya sangat besar untuk menolak anggapan umum di desa itu bahwa selama ini ia tidak berbakti kepada ibunya. Ia ingin menunjukkan kepada orang-orang sedesa bahwa makam ibunya paling mewah di antara makam-makam yang lain.Siang itu Marwan memimpin para tukang memugar makam Mbok Surti, ibunya. Dengan kewibawaan yang dibuat-buat Marwan memberikan perintah kepada para pekerja."Awas marmernya jangan sampai pecah. Itu marmer mahal, kelas satu dari Tulungagung.""Iya, Pak Marwaaaan."Marwan berkacak pinggang sambil memperhatikan para tukang bekerja."Jangan keliru, nisan yang ada nama ibuku ditaruh di kepala jangan di kaki.""Iya, Pak Marwaaaaan.""Kita bikin makam Mbok Surti paling indah dari semua makam di sini.""Iya, Pak Marwaaaan.""Kira-kira bisa selesai hari ini tidak?""Bisa Pak, bisa!""Besok saya harus kembali ke kota. Bisnis tidak bisa ditinggalkan. Bisnis itu uang.""Iya, Pak Marwaaaaan.""Nanti kalau sudah rampung kita adakan selamatan dan kita undang Kyai Muslih untuk berdoa. Saya sudah matur dan beliau bersedia.""Sebaiknya memang begitu, Pak Marwan."Marwan kemudian membuka tasnya lalu dikeluarkan beberapa bungkus rokok kretek, lalu dibagikan kepada para pekerja."Kalian setuju dengan cara inilah aku menunjukkan bakti kepada ibu?""Setuju, Pak Marwan.""Jadi tidak hanya berdoa, kan?""Iya, Pak Marwan.""Kalau cuma dengan doa hanya Tuhan yang tahu bahwa aku telah berbakti kepada orang tua. Padahal semua orang desa ini juga harus tahu. Bukankah mereka yang selama ini menganggap saya tidak berbakti?""Betul, Pak Marwan."Marwan mengeluarkan dompet dari saku belakang celananya. Dari dompet itu ia keluarkan beberapa lembar uang kertas lalu dibagikan kepada para pekerja satu lembar seorang."Orang punya cara sendiri-sendiri untuk menunjukkan bakti kepada orang tua. Dan inilah caraku.""Betul, Pak Marwan.""Kita boleh berbeda. Tapi kita bebas memilih cara kita.""Memang begitulah seharusnya, Pak Marwan."Udara terasa semakin panas karena matahari berada di atas ubun-ubun. Para pekerja itu semakin bersemangat. Menjelang sore pemugaran itu masih separo jadi. Tiba-tiba terdengar suara sirine meraung-raung. Para pekerja di makam itu panik ketika dua mobil polisi berhenti di depan makam. Beberapa polisi berloncatan dari atas mobil dengan senjata siap tembak. Polisi-polisi itu berhamburan masuk ke dalam kompleks makan.Marwan berlari lalu meloncati pagar samping makam. Terdengar suara tembakan. Marwan menjerit lalu terjerembab ke tanah. Desa Karanganyar gempar. Marwan ditangkap polisi setelah tertembak kakinya. Ternyata selama ini Marwan menjadi buronan polisi karena menjadi otak perampokan di mana-mana. Marwan adalah pimpinan Kapak Merah gerombolan perampok yang terkenal kejam.Untuk beberapa hari makam Mbok Surti terbengkalai. Atas inisiatif Pak Lurah dan Kyai Muslih pemugaran tetap dilanjutkan. Tapi, Kyai Muslih mengusulkan bahannya diganti dengan batu bata biasa hasil produksi Desa Karanganyar sendiri."Sia-sia kita bangun makam sebagus-bagusnya kalau uang yang kita gunakan tidak halal," kata Kyai Muslih. Para pekerja itu kembali mencopoti marmer kelas satu dari Tulungagung dan diganti dengan batu merah."Marmer itu malah akan menghalang-halangi jalan Mbok Surti menghadap Allah. Kita tahu siapa Mbok Surti yang selama ini sangat rajin beribadah. Marmer-marmer itu sama sekali tidak akan membantunya. Mbok Surti telah membawa bekal sendiri yang ia tabung dengan rajin di masjid kita." Hanya dalam waktu singkat pemugaran secara sederhana itu rampung. Selesai pemugaran Kyai Muslih membaca doa. Agak panjang doa itu. "Allahuma firlahaa warhamhaa waafihii wa'fuanhaa." Kyai Muslih mengakhiri doanya

Tuesday, October 10, 2006

Anakku

Hari ini saya teringat ketika tiga hari yang lalu sewaktu anak saya yang baru akan genap berumur 7 tahun besok tanggal 11 oktober bertanya,"Ayah kapan sih kiamat itu?". kaget saya tiba-tiba anak saya bertanya seperti itu, lalu saya jawab, " kiamat itu bisa datang kapan saja, bisa saat ini, besok, maupun lusa dan kita tidak akan tau kapan datangnya, tetapi tanda-tandanya sudah banyak "sayang ayah"(begitu biasanya saya memanggil anak saya). lalu ia bertanya lagi,"terus kalo abis kiamat kita bisa ketemu lagi gak yah, kan kita udah meninggal semua?", lalu saya jawab,"pasti bisa". "Azka jadi takut yah...jangan nanti masuk neraka lagi....,kayak gimana sih neraka yah...?", lalu saya berikan gambaran mengenai surga dan neraka dan saya jelaskan kita semua sebagai orang yang beriman gak ada yg bercita-cita masuk neraka. "Terus gimana nanti Azka bisa cari Ayah sama Mama?", terus saya katakan lagi kita nanti disana bakal ketemu lagi, tapi dalam usia yang sama seperti usia 17 tahun Ayah, mama, Azka nanti usianya sama-sama masih muda. Sekali lagi ayah katakan kita sebagai orang beriman ingin yang namanya husnul khotimah dan bercita-cita masuk surga. Ramadhan ini ternyata banyak hikmahnya buat saya.

Motivasi

Shalat adalah perintah yang disampaikan Allah SWT secara langsung kepada Nabi Muhammad SAW, tanpa melalui perantara malaikat Jibril. (Hal ini menunjukkan betapa tinggi nilai shalat itu disisi-NYA).

Shalat adalah wasiat Rasulullah SAW, terakhir yang disampaikan berulang-ulang kali pada waktu beliau dalam keadaan sakaratulmaut.

Shalat adalah bukti pernyataan Takluk manusia kepada Allah SWT.

Shalat adalah sarana untuk memperoleh pahala yang tinggi , yang sangat diperlukan di akhirat kelak (Oleh karena itu, meninggalkan shalat berarti membuang peluang emas).

Makin berat suatu ujian, maka tentunya akan semakin besar pula pahala yang diperoleh. Shalat adalah ujian yang berat, jadi bila rasa malas ini berhasil diatasi, maka kita akan memperoleh pahala yang besar.


”Amalan yang pertama kali dihisab dari seseorang hamba pada hari kiamat ialah shalatnya, maka jika shalatnya diterima akan diterima pulalah daripadanya semua amalannya, tetapi jika shalatnya ditolak, maka akan ditolak pulalah semua amalannya”. (Sabda Rasulullah)

”Dan sesungguhnya mengingat Allah SWT (Shalat) adalah lebih besar keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain”. (Al-Ankabut:45)

”Apakah yang memasukkan kamu kedalam neraka ? Mereka menjawab” :”kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat”. (Al-Muddaststir : 42-43).

”Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan Shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya...”(Thahaa :132)




Hamba Allah,

Find The Way To Heaven

Ayah

Seorang gadis kecil berlari-lari, rambutnya terurai kusut. Ia mengangisijenazah ayahnya yang diusung menuju peristirahatannya yang terakhir.

Menyaksikan iring-iringan jenazah lewat di depan rumahnya, Hasan Al Basri yang sedang duduk-duduk di depan pintu bangkit ikut bergabung dalam iring-iringan itu. Setelah pemakaman dilihatnya gadis kecil itu memeluk makam ayahnya dan ia berkata, “Ayahku, mengapa hari seperti ini singgah dalam umurmu?” ratap gadis kecil itu dengan pilu.

“Ayahku, malam ini engkau sendirian t6erbaring dalam kegelapan kubur tanpa lampu dan penghibur. Jika malam kemarin aku masih bias menerangimu dengan lampu, tapi siapakah yang menerangimu malam ini, dan siapa pula yang menghiburmu?”

“Ayahku, malam kemarin aku masih bias menggelar hamparan tikar untuk tidurmu, tapi siapakah yang menghamparimu nanti malam? Jika malam-malam kemarin aku bias memijiti tangan dan kakimu, taetapi siapakah yang memijitimu sekarang? Jika malam kemarin akulah yang memberimu minuman, siapakah yang memberi minuman untukmu nanti malam? Jika dahulu aku dapat membantumu menggulingkan tubuhmu yang renta, tetapi siapakah kini yang merawatmu?”

“Ayahku, jika dahulu aku yang menyelimuti tubuhmu yang tersingkap, tetapi kini siapa yang menyelimuti? Kemarin engkau masih bias memanggilku dan aku menjawab untukmu, tetapi malam ini siapakah yang engkau panggil, dan siapa yang menyahutimu?”

“Ayahku, jika kemarin enghkau minta makan dan aku yang melayanimu, apakah nanti malam ada makanan untukmu dan siapakah yang melayanimu?”

Mendengar ratapan anak gadis itu, meleleh air mata Hasan Al Basri. Lalu didekatinya gadis kecil itu seraya berkata : “Anakku, kau jangan mengucap begitu, tapi ucapkanlah : Wahai ayahku, engkau telah kukafani dengan sebungkus kafan, tetapi masihkah engkau mengenakan kafan itu besok? Aku telah meletakkan tubuhmu yang segar bugar dalam kubur, masih bugarkah engkau atau sudah mulai digerogoti cacing?”

“Ayahku, orang-orang alim mengatakan bahwa semua hamba besok akan ditanya tentang imannya. Diantara mereka ada yang bisa menjawab, tetapi ada Cuma membisu. Adakah Ayah nanti bisa menjawab atau hanya membisu?”

“Ayahku , orang alim berkata bahwa kuburan itu bisa dibuat menjadi luas atau sempit. Bagaimana kuburan ayah, bertambah luaskah atau bertambah sempit?”

“Ayahku, orang alim berkata bahwa kain kafan orang yang meninggal ada yang diganti dengan kain kafan syurga dan ada pula yang dari neraka. Kain kafan darimana yang ayah gunakan sekarang?”

“Ayahku, orang alim berkata bahwa kuburan itu merupakan secuil taman dari taman syurga, tapi bisa juga merupakan sebuah lubang dari lubang neraka. Yanmg kupikirkan, bagaimana kuburan ayah sekarang? Taman Syurga atau Lubang Neraka?”

“Ayahku, orang alim berkata bahwa liang kubur bisa menghangati mayat dengan memeluknya seperti pelukan ibu terhadap anaknya, tetapi bisa juga merupakan lilitan erat yang meremukkan tulang-tulang si mayat. Bagaimana keadaan tubuh ayah sekarang, jangan-jangan ayah terhimpit lubang kubur”

“Ayahku, orang alim berkata, orang yang dikebumikan itu ada yang menyesal mengapa dahulu semasa hidupnya tak memperbanyak amalan bagus, pendurhaka, dan banyak melakukan maksiat yang kutanyakan pada ayah, apakah engkau termasuk yang menyesali karena perbuatan maksiat atau menyesal karena sedikit melakukan amal kebagusan?”

“Ayahku, dahulu aku memanggilmu tentu engkau menjawab, tetapi kini engkau kupanggil-panggil tak mau lagi menjawabku. Engkau kini telah berpisah denganku dan tak bersua lagi sampai hari kiamat, semoga Allah tak menghalangi perjumpaanku dengan-mu”

Mendengar nasihat Hasan Al Basri itu, gadis itu bangkit seraya berkata: “Betapa bagus nasihatmu itu, semoga ayahku termasuk kedalam golongan orang yang dikasihi Allah.” Amin. (mr.R) (dikutip dari “Bahan Renungan Kalbu”, Ir. Permadi Alibasyah)